Al-Farabi : Guru Kedua (Pertemuan kelima)

Pertemuan kelima dilaksanakan pada Rabu (5/10) secara daring melalui WhatsApp grup dan Google Meet kelas A & B.

Kelas dimulai dengan presentasi kelompok 2 yang membicarakan tokoh filsuf Muslim Abu Nashr Al Farabi. Setelah itu berlangsung diskusi kelas.


AL-FARABI

Al-Farabi memiliki nama lengkap Abu Nashr Muhammad Ibnu Tarkhan Ibnu Auzalagh, ia dilahirkan di Wasij, Distrik Farab, Turkistan tahun 257 H/870 M. Al-Farabi mendapat kehormatan dalam dunia intelektual Islam dengan julukan al-Mu’alim al-Sany (Guru Kedua) karena jasanya sebagai penafsir dari logika Aristoteles. Al-Farabi dikenal sebagai filosof sinkretisme yang mempercayai kesatuan filsafat, karena ia berhasil merekonsiliasikan agama dan ajaran filsafat sebelumnya. Menurut Al-Farabi, antara agama dan filsafat tidaklah bertentangan, bahkan mesti cocok dan serasi karena sumber keduanya sama-sama dari akal aktif, hanya berbeda cara memperolehnya. Bagi filosof perantaraannya adalah akal mustafad, sedangkan dalam agama perantaraan wahyu disampaikan kepaada nabi-nabi..Kendati ia terpengaruh oleh filsafat Aristoteles, Plato, dan Plotinus, namun ia telah berhasil mengembangkan dan memperdalam sehingga dapat menghasilkan produk filsafatnya sendiri yang belum pernah dibicarakan oleh filosof Yunani. Ia berhasil menciptakan filsafat Islam yang memiliki watak dan ciri khas tersendiri.

Karya Tulis Al-Farabi 

Al-Jam ' bain Ra ' yai al-Hakimain 

Tahshil al-sa ' adat 

Maqalat fi Aghradh ma ba 'd al-Thabiat 

Risalat fi Isbat al-Mufaraqat 

Uyun al-Masa 'il, dst.

Filsafat Al-Farabi

1. Rekonsiliasi Al-Farabi

Al-Farabi dikenal sebagai filosof sinkretisme yang mempercayai kesatuan filsafat. Hal ini disebabkan oleh keberhasilannya dalam merekonsiliasikan beberapa ajaran filsafat sebelumnya, seperti Plato dan Aristoteles serta antara agama dan filsafat.

2. Ketuhanan 

Al-Farabi dalam pembahasan tentang ketuhanan memadukan antara filsafat Aristoteles dan Neo-Platonisme, yakni al-Maujud al-Awwal (wujud pertama) sebagai sebab pertama bagi segala yang ada. Konsep ini tidak bertentangan dengan keesaan yang mutlak dalam ajaran Islam.

3. Emanasi 

Emanasi merupakan proses dalam pembentukan alam semesta. Faktor yang mendorong Al-Farabi mengemukakan emanasi karena ingin menegaskan tentang keesaan Allah, bahkan melebihi Al-Kindi. Allah bukan hanya dinegasikan dalam artian aniah dan mahiah, tetapi lebih jauh dari itu. Allah adalah Esa sehingga tidak mungkin Ia berhubungan dengan yang tidak sempurna dan ini akan menodai keesaan-Nya. Maka dari itu, dari Allah hanya hanya timbul satu, yakni Akal Pertama yang mengandung arti banyak, bukan banyak jumlah melainkan sebab dari pluralitas. Dari itu Akal Pertama berfungsi sebagai mediator antara Yang Esa dan yang banyak sehingga dapat dihindarkan hubungan langsung antara Yang Esa dan yang banyak.

4. Kenabian

Filsafat kenabian Al-Farabi erat kaitannya antara nabi dan filosof dalam kesanggupannya untuk berkomunikasi dengan Akal Fa ’ al (Jibril). Motif lahirnya filsafat Al-Farabi ini disebabkan adanya tokoh berkebangsaan Yahudi (Ahmad Ibnu Ishaq Al-Ruwandi) yang mengingkari eksistensi kenabian, karena itulah Al-Farabi merasa terpanggil untuk menjawab tantangan tersebut.

Ciri khas seorang nabi menurut Al-Farabi adalah mempunyai daya imajinasi yang kuat dan ketika berhubungan dengan Akal Fa ’ al (Jibril) ia dapat menerima visi dan kebenaran dalam bentuk wahyu. Sementara itu filosof dapat berkomunikasi dengan Allah melalui akal perolehan yang terlatih dan kuat daya tangkapnya sehingga sanggup menangkap hal-hal yang bersifat abstrak murni dari Akal Kesepuluh (Jibril).

5. Negara Utama 

Manusia menurut Al-Farabi bersifat sosial yang tidak mungkin hidup sendiri-sendiri. Manusia hidup bermasyarakat dan saling membantu untuk kepentingan bersama dalam mencapai tujuan hidup. Sifat dasar inilah yang mendorong manusia hidup bernegara. Melalui bukunya yang fundamental Ara ’ Ahl al-Madinah al-Fadhilah AlFarabi membagi negara atau pemerintahan menjadi beberapa, akan tetapi pembahasan Al-Farabi lebih terfokus pada Negara Utama (al-madinah al-fadhilah). 

Negara Utama sebagai satu masyarakat sempurna dalam arti yang sudah lengkap bagian-bagiannya, diibaratkan oleh Al-Farabi sebagai organisme tubuh manusia dengan anggota yang lengkap dan masing-masing harus bekerja sesuai dengan fungsinya. Demikian pula anggota masyarakat Negara Utama yang terdiri dari warga yang berbeda kemampuan dan fungsinya.

6. Jiwa 

Jiwa manusia disebut dengan al-nafs al-nathiqah, berasal dari alam Ilahi, sedangkan jasad berasal dari alam khalaq, berbentuk, berupa, berkadar, dan bergerak. Jiwa diciptakan tatkala jasad siap menerima. Bagi Al-Farabi, jiwa manusia mempunyai daya-daya sebagai berikut:

• Daya al-Muharrikat (gerak), daya ini yang mendorong untuk makan, memelihara, dan berkembang.

 Daya al-Mudrikat (mengetahui), daya ini yang mendorong untuk merasa dan berimajinasi. 

• Daya al-Nathiqat (berpikir), daya ini yang mendorong untuk berpikir secara teoritis dan praktis.

7. Akal 

Menurut Al-Farabi, akal dibagi menjadi 3 jenis. Pertama, Allah sebagai akal. Allah sebagai akal adalah Pencipta dan Esa semutlak-mutlaknya Maha sempurna dan tidak mengandung pluralitas. Kedua, adalah akal-akal pada filsafat emanasi, Akal pertama esa pada zatnya, tetapi dalam dirinya mengandung keanekaan potensial. Ia diciptakan oleh Allah sebagai Akal, maka objek ta ' aqqul-nya tidaklah lagi satu, tetapi sudah dua: Allah sebagai Wajib al-Wujud dan diriwayatkan sebagai mukmin al-wujud. Ketiga, akal sebagai daya berpikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Akal ini bertingkat-tingkat terdiri dari akal potensial, akal aktual, dan akal mustafad.|

Ringkasan materi ini disalin dari Resume Queenadia 
https://qnadiasyhrn.blogspot.com/

Comments

Popular posts from this blog

IBNU MISKAWAIH : Filsuf PNS (Pertemuan Kedelapan)

Abu Bakar Ar-Razi : Galennya Arab