IBNU MISKAWAIH : Filsuf PNS (Pertemuan Kedelapan)
Pertemuan kedelapan dilaksanakan pada Rabu (26/10) secara daring melalui WhatsApp grup dan Google Meet kelas A & B.
Kelas dimulai dengan presentasi kelompok 5 yang membicarakan tokoh filsuf Muslim, Ibnu Miskawaih, filsuf akhlak yang juga bekerja sebagai pegawai pemerintah di zamannya.
IBNU MISKAWAIH
Abu Ali al-Khazim Ahmad bin Ya'qub Bin Miskawaih atau yang lebih dikenal dengan ibnu miskawaih lahir di Kota Rayy (Iran) pada tahun 932 M. Ibnu Miskawaih terkenal sebagai seorang filosof, dokter, penyair dan ahli bahasa. Ibn Miskawaih memberikan perhatian besar kepada masalah akhlak sehingga ia dikenal sebagai seorang pemikir muslim dalam bidang ini. Selain itu semua beliau juga mempelajari ilmu-ilmu lainnya seperti ilmu bahasa, ilmu kedokteran, ilmu fiqih, hadis, matematika, musik, ilmu militer, dan lain sebagainya. Ibnu Miskawaih memiliki beberapa julukan, salah satunya yaitu, Al-Khozin (pustakawan) karena dipercaya untuk menangani buku-buku Ibn al-Amid dan Adud ad-Daulah Ibn Bawaih. Tetapi ada juga yang berpendapat bahwa julukan tersebut berarti “bendaharawan”, yang diberikan kepada Ibnu Miskawaih pada masa kekuasaan ‘Ahdu al-Daulah dari bani Buwaihi. Meskipun begitu Ibnu Miskawaih lebih memusatkan perhatiannya pada filsafat akhlak. Oleh karena itu, pemikiran pendidikannya berisi tentang moral.
Ibnu Miskawaih lebih dikenal sebagai filsuf akhlak (etika) walaupun perhatiannya luas meliputi ilmu-ilmu yang lain seperti kedokteran, bahasa, sastra, dan sejarah. Bahkan dalam literatur filsafat Islam, ia lebih memusatkan perhatiannya pada filsafat akhlak. Oleh karena itu, pemikiran pendidikannya berisi tentang moral.. Menurut Muhammad Hamidullah dan Afzal Iqbal dalam karyanya bertajuk The Emergence of Islam: Lectures on the Development of Islamic World-view, Intellectual Tradition and Polity, menjelaskan bahwa Ibnu Miskawaih merupakan orang pertama yang memaparkan secara jelas ide tentang evolusi. Seperti ilmuwan lainnya pada era abad ke-4 H dan ke-5 H (abad ke-10 M dan ke-11 M) Ibnu Miskawaih merupakan orang yang memiliki wawasan luas dalam bidang filosofi, berdasarkan pada pendekatannya terhadap filsafat Yunani yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Konsep Manusia
Pemikiran Ibnu Miskawaih tentang manusia tidak jauh beda dengan para filosof lain. Menurutnya di dalam diri manusia terdapat tiga kekuatan, yakni kekuatan nafsu (al-nafs al bahimiyyat) sebagai kekuatan paling rendah, kekuatan berani (al-nafs al-sabu'iyyat sebagai kekuatan menengah, dan kekuatan berpikir (al nafs al-nathiqah)sebagai kekuatan tertinggi. Dia sering menggabungkan aspek-aspek Plato, Aristoteles, Phytagoras, Galen, dan pemikir lain yang telah dipengaruhi filosofi Yunani. Namun ini bukanlah suatu penjarahan budaya, melainkan usaha kreatif menggunakan pendekatan-pendekatan beda ini sebagai menjelaskan masalah-masalah penting.
Konsep Jiwa
Definisi jiwa menurut Ibnu Maskawaih adalah sebuah inti yang sangat halus dan jauhar rohani yang kekal, tidak hancur dengan sebab hancurnya kematian jasmani. Ia tidak dapat dirasakan oleh salah satu indera manusia, dan hanya mengetahui dirinya sendiri. Jiwa merupakan sesuatu yang mempunyai perbuatan yang berbeda dengan karakteristik perbuatan tubuh, sehingga dalam satu dan lain hal jiwa tidak dapat berada bersama-sama dengan tubuh. Oleh karena itu, jiwa berbeda dengan tubuh dalam hal sifat dan bentuk jiwa tidak bisa berganti dan tidak pula berubah
Konsep Akhlak
Menurut Ibnu Miskawaih, kelakuan adalah kondisi jiwa seseorang yang mendorongnya sebagai melakukan perbuatan-perbuatan tanpa menempuh pertimbangan kelicikan terlebih dahulu. Karakteristik pemikiran Ibnu Miskawaih dalam pendidikan kelakuan secara umum dimulai dengan pembahasan tentang kelakuan (karakter/watak). Menurutnya watak itu telah tersedia yang bersifat alami dan telah tersedia watak yang diperoleh menempuh kebiasaan atau latihan. Dia berpikir bahwa kedua watak tersebut hakekatnya tidak alami meskipun kita lahir dengan membawa watak masing-masing, namun sebenarnya watak dapat diusahakan menempuh pendidikan dan pengajaran.
Konsep Ketuhanan
Konsepsi Tuhan menurut Ibn Miskawaih adalah zat yang tidak berjisim, Azali, dan pencipta. Tuhan esa dalam segala aspek. Ia tidak terbagi-bagi dan tidak mengandung kejamakan dan tidak satupun yang setara dengan-Nya. Ada tanpa diadakan/dengan sendiriNya dan ada Nya tidak bergantung kepada yang lain.
Menurut Ibn Miskawaih, Tuhan itu bisa dikenal dengan propogasi negatif dan propogasi positif.
Konsep Kenabian
Adapun masalah kenabian, Ibnu Maskawaih Agama Islam adalah agama wahyu dan semua ajarannya yang dibawa oleh Nabi bersumber dari wahyu, bukan darinya. Hal tersebut terdapat dalam al Quran surat An Najm ayat 3-7. Dari itu, setiap filosof Islam harus memperhatikan hal ini, dan berupaya untuk menyelaraskan pemikirannya dengan ajaran Islam yang berdasarkan wahyu. Ibnu Miskawaih menafsirkan nubuwwah(kenabian) secara akali, sehingga dapat memperkecil perbedaan Nabi dengan filosof dan memperkuat hubungan wahyu dengan akal. Semua manusia perlu kepada nubuwwah karena sumber ajaran yang diperlukan untuk mengetahui sifat-sifat keutamaan dan yang terpuji dalam kehidupan praktis hanya terdapat dalam agama. Nabi adalah pembawa ajaran yang berasal dari Allah kepada umat manusia. Menurut Ibnu Maskawaih, Nabi adalah seorang insan yang berkat pengaruh akal aktif(‘aql fa’al) terhadap daya inderawi dan khayal telah memperoleh hakikat-hakikat yang juga telah diperoleh oleh para filosof. Perbedaannya terletak pada cara menerima hakikat tersebut. Pada filosof, hakikat tersebut diterima dari bawah ke atas. Yaitu dari daya inderawi ke daya khayal lalu ke daya berpikir yang dapat berhubungan dengan akal aktif sebagai sumber segala hakikat. Sedangkan pada Nabi, hakikat tersebut dimulai dari akal aktif turun langsung kepadanya. Jadi, sumber kebenaran adalah satu, yakni akal aktif. Oleh karena kebenaran itu satu, baik yang ada pada Nabi maupun yang ada pada filosof, maka yang paling awal menerima dan mengakui apa yang dibawa oleh Nabi adalah filosof. Hal ini karena Nabi membawa ajaran yang tidak bertentangan dengan akal. Manusia perlu kepada Nabi untuk mengetahui hal-hal yang bermanfaat yang dapat membawanya kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. Akan tetapi, hanya para filosof yang dapat mengetahui dengan akalnya tentang kebenaran ajaran yang dibawa para Nabi.pada dasarnya tidak ada perbedaan pendapat antara Ibn Miskawaih dan Al-Farabi dalam selisih antara perbedaan Nabi dengan filsuf, sekaligus untuk memperkuat hubungan akal dengan wahyu.
Ringkasan materi ini disalin dari catatan Haidar Ali Faqih https://medium.com/@alifaqih.dhar/
Comments
Post a Comment