Kebebasan Akal dalam Berfilsafat

 A. Pengertian Filsafat dan Objeknya

Secara etimologi filsafat berasal dari bahasa Yunani "philosophia" Sehingga dapat diartikan sebagai suatu gagasan yang penuh kebijaksanaan dan kebenaran. Sedangkan secara terminologi, Filsafat adalah suatu ilmu pengetahuan yang merupakan proses perenungan atau pemikiran untuk mencari hakikat kebenaran segala sesuatu. Menurut beberapa ahli menjelaskan tentang filsafat yaitu:

1. Aristoteles berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang terkandung didalamnya ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika.

2. Socrates menyebutkan bahwa filsafat adalah ilmu yang berupaya untuk memahami hakikat alam dan realitas ada dengan mengandalkan akal budi.

3. Menurut Al-Farabi, filsafat adalah ilmu mengenai yang ada, yang tidak bertentangan dengan agama, bahkan sama-sama bertujuan mencari kebenaran.

Objek Filsafat

1. Objek material adalah yaitu hal atau bahan yang diselidiki (hal yang dijadikan sasaran penyelidikan). Atau segala sesuatu yang ada. Objek yang dikaji adalah sesuatu yang dapat dirasionalkan yang bersifat empiris dan ilmiah. Sesuatu yang "ada" kemudian disebutkan sebagai berikut:

● Thinkable, hal rasional yang berdasarkan pada inderawi dalam artian selama panca indera bisa mengenali atau merasakan hal tersebut maka itulah hakikat ada dalam objek material.

● Unthinkable, sesuatu yang tidak terfikirkan oleh kita namun bisa jadi sedang atau telah difikirkan oleh orang lain.

● Unthoughtable, sesuatu yang tidak pernah terfikirkan namun diyakini ada. Satu-satunya hal tersebut adalah adanya Tuhan.

2. Objek formal adalah metode untuk memahami objek material tersebut. Hal yang dijadikan dalam objek formal merupakan objek material yang dikaji secara khusus.


B. Pengertian Filsafat Islam

Filsafat Islam merupakan suatu kajian yang berorientasi pada al-Qur’an, mencari jawaban dan menafsirkan masalah-masalah yang ada berdasarkan wahyu Allah. Adapun definisinya secara khusus seperti apa yang dikemukakan penulis Islam sebagai berikut.

● Ibrahim Madkur, filsafat Islam adalah pemikiran yang lahir dalam dunia Islam untuk menjawab tantangan zaman, yang meliputi Allah dan alam semesta, wahyu dan akal, agama dan filsafat.

● Ahmad Fu'ad Al-Ahwaniy, filsafat Islam adalah pembabasan tentang alam dan manusia yang disinari ajaran Islam.


C. Dorongan Al-Qur’an terhadap Akal dan Pemikiran Filsafat

Al-Qur’an adalah sebuah buku petunjuk dan pegangan keagamaan, namun di antara isinya mendorong umat Islam supaya banyak berpikir. Dalam Al-Qur’an terdapat banyak ayat yang mendorong pemeluknya agar banyak berpikir dan menggunakan akalnya. Berikut ayat

Al-Qur’an yang berisi kegiatan berpikir:

● Surat Ali-imran[3]:18, ulu al-abshar : artinya orang yang mempunyai pandangan

● Surat Al-Nur[24];44, ulu al-Nuha : artinya orang bijaksana

● Dan juga kata ayat sendiri erat hubungannya dengan perbuatan berpikir, yang arti aslinya adalah tanda.


D. Hubungan Filsafat Islam dengan Ilmu-ilmu Keislaman Lainnya

1. Filsafat Islam dan Ilmu Kalam, Ilmu kalam merupakan salah satu ilmu keislaman yang timbul dari hasil diskusi umat Islam dengan menggunakan dalil akal dan filsafat.

2. Filsafat Islam dan Tasawuf, Menurut Al-‘Iraqy, tasawuf dalam Islam baik yang suni maupun yang falsafi termasuk dalam ruang lingkup filsafat Islam secara umum.

3. Filsafat Islam dan Ushul Fiqih, ilmu ushul fiqih ini juga mempunyai hubungan yang erat dengan falsafah Islam. Hal ini dapat dilihat dari segi pembahasan ilmu ini hampir sama dengan pembahasan yang terdapat dalam ilmu kalam.

4. Filsafat Islam dan Sains, Filsafat merupakan satu ilmu yang mencakup seluruh lapangan ilmu pengetahuan, baik yang teoretis, maupun yang praktis. Dengan dmikian, dapat disimpulkan bahwa setiap filosof adalah ilmuwan, karena filsafat berdiri atas dasar ilmu pasti dan ilmu alam. Akan tetapi, tidak semua ilmuwan adalah filosof.


E. Hubungan Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani

● Secara Historis, Para Filsuf Islam banyak menerjemahkan buku-buku Yunani kedalam bahasa Arab. Pemikiran para Filsuf Islam pada saat itu juga banyak yang terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran dari filsuf Yunani, seperti dari Aristoteles. Filsafat Islam dapat dikatakan sebagai pembembang dan penerus dari filsafat Yunani.

● Secara Pemikiran, antara Filsafat Islam dengan Filsafat Yunani adalah sama pada pola pikirnya saja, yaitu berpikir dengan kehendak bebas dan tanggung jawaban manusia (Rasional dan Liberal). Namun pada penerapannya, Filsafat Islam lebih menggunakan pola pikir tersebut untuk membantu menjelaskan tafsir, dan tujuan dalam melihat agama Islam lewat Al-Qur’an dan Al-Hadist.


Berikut beberapa penanya pada saat diskusi:

● Nama : Maulida Sahla Sabila

NIM : 11210511000071

Pertanyaan : Saat ini, masih cukup sering terjadi perdebatan mengenai filsafat Islam, apakah benar sampai sekarang filsafat itu sendiri masih dianggap tabu dalam ajaran Islam?

Jawaban :

Ada pernyataan seperti ini "seseorang dapat menjalankan agama tanpa filsafat, tapi berfilsafat tanpa disertai agama itu membahayakan." Rrealita pernyataan ini dapat dilihat pada kehidupan para filosof Islam, seperti: Al-Kindi, Al-Farabi, dan Ibn Sina.

Al-Kindi, Abu Yusuf Ya'qub bin Ishaq ia dikenal sebagai filosof Islam pertama yang sebelum dan setelah mengenal filsafat hingga meninggal dunia, ia tidak pernah meninggalkan ajaran-ajaran agama.

Singkatnya, filsafat tidak melemahkan imannya, justru iman itu bertambah kuat, ketaatan dan kecintaannya terhadap agama semakin mengakar. semua itu terbukti saat ia menentang keras filsafat Aristoteles yang melihat alam sebagai makhluk kekal yang tidak musnah. Disini Al-Kindi menegaskan bahwa yang kekal itu hanya Allah. Alam dan isinya semua musnah.

Kemudian jika filsafat itu diartikan sebagai kegiatan berfikir, maka tidak hanyaorang-orang Yunani saja yang dapat berfilsafat, tapi semua orang pun bisa.

Menurut para filsuf Muslim, berfilsafat, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai hikmah, falsafah, atau 'ulum al-awa'il bukan hanya sekadar wacana kosong. Tetapi bertujuan untuk mengatakan dan sungguh-sungguh mengerjakan yang benar sesuai dengan pengetahuannya itu. Contohnya Ibnu Sina. Ibnu Sina memandang filsafat sebagai salah satu proses mencapai kesempurnaan jiwaa mnusiawi untuk menjadi manusia yang lebih baik.


● Nama : Salma Nuralifa Meida Hartanto

NIM : 11210511000090

Pertanyaan : Dari fakta di kehidupan sehari-hari, sebagian masyarakat memiliki stigma negatif terhadap ilmu filsafat. Contohnya seperti membuat orang tidak percaya dengan Tuhan, kemudian membuat pola pikir orang yang mempelajari filsafat dianggap aneh atau berbeda dari kebanyakan orang. Bagaimana tanggapan dari kelompok satu mengenai hal tersebut?

Jawaban :

Sebagian masyarakat mengira bahwa filsafat akan membuat seseorang tidak percaya kepada Tuhan. Pandangan seperti ini sangat merusak citra filsafat itu sendiri yang bertujuan untuk menciptakan pribadi yang kritis. Memang ada orang yang tidak percaya Tuhan setelah mempelajari filsafat, tapi itu bukanlah kesalahan dari filsafat melainkan dari cara orang tersebut saat berfilsafat.

Dalam cara berfilsafat itu, biasanya seseorang menghancurkan pola pikir lamanya, kemudian mencari tahu hakikat dari sesuatu, baru merekontruksi pola pikir baru dan yang membuat seseorang itu tidak percaya Tuhan ialah ketika dia tidak menyelesaikan tahap pencarian hakikat, tetapi ia malah langsung masuk ke tahap rekontruksi pemikiran.

Kemudian, Orang yang telah belajar filsafat seringkali dicap nyeleneh dalam berpikir. Kadang pola pikirnya berbeda dengan masyarakat kebanyakan dan hal ini yang membuat stigma itu melekat pada filsafat. Sebenarnya, mereka itu bukan nyeleneh, tapi pemikirannya lebih out of the box. Justru dengan gaya berpikir yang unik, masyarakat harusnya mengerti bahwa ia mungkin memiliki sudut pandang lain dalam menilai sesuatu atau mungkin dia telah menggali sesuatu itu sampai ke dasar dan mengetahui hakikatnya. Oleh karena itu, yang perlu dilakukan masyarakat ialah memberikan ruang baginya dan bersikap toleran, bukannya memberikan stempel negatif.


● Nama : Nurul Lutfia Maryadi

NIM : 11210511000082

Pertanyaan : Apakah ada hubungan yg lain antara ilmu ushul fiqh dengan filsafat, selain yg dibacakan di ppt?

Jawaban :

Hubungan lainnya itu seperti, ilmu ushul fiqih dalam menetapkan hukum syariat juga mempergunakan pemikiran filosofis. Bahkan ia cenderung mengikuti ilmu logika dengan cara, memberikan definisi-definisi terlebih dahulu. Contohnya seperti dalam memahami dan menafsirkan ayat-ayat Al-Qur'an yang berkenaan dengan hukum diperlukan ijtihad. Ijtihad adalah salah satu usaha untuk mengeluarkan ketentuan hukum dengan mempergunakan akal pikiran. Sebagai landasan dasar berpegang pada ijtihad ialah hadis Nabi Muhammad Saw.


● Nama : Robi Muarifa

Pertanyaan : Pada slide kelima mengenai objek filsafat. Saya ingin menyoroti kalimat "Pada akhirnya apapun tentang Tuhan tidak bisa terpikirkan oleh akal" pada uraian, C. Unthoughtable. Karakteristik filsafat itu kan salah satunya untuk mencari hakikat kebeneran. Lalu kok kenapa ya pada pertanyaan-pertanyaan esensi tentang adanya Tuhan, pemikiran kita dikatakan tidak akan sampai. Apakah pada bagian ini, filsafat 'menjegal' akal untuk berfikir, sehingga dikatakan akal kita mustahil mengetahuinya?

Lalu sampai di mana akal kita ini sebenarnya memiliki kebebasan dalam berfilsafat?

Jawaban :

Dalam pertanyaan tersebut terdapat dua hal atau poin yang ditanyakan, yang pertama Apakah pada bagian tersebut, filsafat 'menjegal' akal untuk berfikir, sehingga dikatakan akal kita mustahil mengetahuinya? Jawabannya tidak menjegal, justru filsafat di poin ini menyadarkan akal kita bahwa ada hal yang tidak dapat dimengerti hanya dengan akal. Hakikat kebenaran pada poin Unthoughtable ini khususnya mengenai tuhan, didefinisikan sebagai sesuatu yang tidak pernah terpikirkan tetapi diyakini ada, dalam konteks tersebut sudah jelas filsafat mengakui adanya tuhan. Maksud tidak pernah terpikirkan pada pointr.sebut bukanlah tidak pernah terpikirkan adanya tuhan, tetapi tidak pernah terpikirkan hal-hal tuhan itu seperti apa. Di poin inilah kita sebagai muslimin yang akan mempelajari filsafat islam akan mendalami tentang esensi atau pertanyaan pertanyan tentang tuhan, karena akal saja tidak cukup, imanlah yang akan mencukupkan.

Jawaban dari poin kedua padapertanyaan tersebut yaitu Lalu sampai di mana akal kita ini sebenarnya memiliki kebebasan dalam berfilsafat?. Review pada poin pertama tadi dapat kami simpulkan, bahwa hal-hal yang tidak pernah terpikirkan tersebut tetapi diyakini ada, merupakan titik sampai mana akal kita memiliki kebebasan dalam berfilsafat.

Comments

Popular posts from this blog

Al-Farabi : Guru Kedua (Pertemuan kelima)

IBNU MISKAWAIH : Filsuf PNS (Pertemuan Kedelapan)

Abu Bakar Ar-Razi : Galennya Arab