Pertemuan keenam dilaksanakan pada Rabu (12/10) secara daring melalui WhatsApp grup dan Google Meet kelas A & B.
Kelas dimulai dengan presentasi kelompok 3 yang membicarakan tokoh filsuf Muslim, Ibnu Sina. Setelah itu berlangsung diskusi kelas.
SEJARAH LAHIR IBNU SINA
Ibnu Sina memiliki nama lengkap Abu Al-Ali Husein ibn Abdullah ibn Al-Hasan ibn Ali Ibnu Sina atau dikenal dengan nama Avicenna di dunia Barat. Ibnu Sina lahir pada bulan Safar di desa Afsana pada tahun (370-428 H/980-1037 M) di sebuah desa dekat dengan Bukhara yang kini termasuk dalam wilayah Uzbekkistan. Ibnu Sina lahir pada saat dinasti Persia di Asia tengah. Setareh, Ibu Ibnu sina berasal dari Bukhara. Abdullah, ayah Ibnu Sina adalah seorang sarjana yang dihormati, ia berasal dari Baklan yang kini menjadi bagian dari wilayan Afganistan. Abdullah sangat berhati-hati dalam mendidik anaknya di Bukhara. Ibnu Sina meninggal pada bulan Juni tepat tahun 1037. Ibnu Sina dimakamkan di Hamadan, Iran. Kontribusi Ibnu Sina semasa hidupnya bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan psikologi sangat tidak ternilai banyaknya.
PERJALANAN HIDUP IBNU SINA
Ketika remaja, Ibnu sina membaca buku metafisika yang di tulis Aristoteles dan mengalami kesulitan untuk memahaminya meskipun sudah membaca sebanyak 40 kali. Setelah itu, ia menemukan buku Al-Farabi yang mengulas tulisan metafisika Aristoteles. Pada usia 16 tahun, ia mulai belajar ilmu kedoktrran dan mempraktikannya dengan pergi ke desa-desa untuk mengobati orang yang tidak mampu, serta menjadi guru. Pada usia 18 tahun, ia memperoleh status sebagai dokter yang berkualitas. Pada usia 22 tahun. ayahnya meninggal dunia, tetapi hal itu tidak mempengaruhi ibnu sina untuk tetap menulis dan mengajar. Menjelang akhir hayatnya, Ibnu Sina menjadi pelayan penguasa Kakuyid bernama Muhammad bin Rustam Dushmanziyar. Di sana, ia diangkat sebagai dokter umum, penasihat sastra dan sains, bahkan sering diikutkan dalam kampanye politik.
PEMIKIRAN FILSAFAT IBNU SINA
1. FILSAFAT AT-TAWFIQ
Ibnu Sina berusaha untuk memadukan antara agama dan filsafat. Menurutnya, nabi dan filusuf menerima kebenaran dari sumber yang sama, yakni malaikat Jibril. Perbedaannya dapat dilihat dari cara memperolehnya. Cara memperolehnya dibagi menjadi dua, yaitu dengan penerimaan melalui akal mustafad dan akal materil. Melalui akal materil, nabi memperoleh kebenaran atau pengetahuan yang disebut dengan wahyu, dayanya lebih kuat dari akal mustafad. Sedangkan filosof melalui akal mustafad memperoleh kebenaran atau pengetahuan disebut dengan ilham. Di antara keduanya sebenarnya tidak bertentangan.
2. FILSAFAT KETUHANAN
Dalam pembuktian tentang ketuhanan, Ibnu Sina cukup mengambil satu dalil pokok, yaitu dengan mengemukakan konsep “Wujūdiyah”. Meskipun tidak dipungkiri bahwa makhluknya juga dapat menjadi bukti atas wujudnya. Kata “Wujūdiyah” berasal dari bahasa arab “Wujūd” yang berarti “ada”. Dalam cara ini, dia membuat sebuah distingsi antara “makhluk” dan “ada”. Menurut Ibnu Sina Tuhan adalah satu-satunya pengetahuan murni dan kebaikan murni, dan adanya sebagai “Wajībul Wujūd” (tidak bisa tidak, Tuhan pasti ada). Ia menyampaikan konsep ini setelah pembagian rasional mengenai soal “Wujūd” (ada) menjadi “Mumtani’” , “Mumkin” , dan “Wajib”. Meskipun bukan Ibnu Sina sendiri yang sepenuhnya mengemukakan konsep ini, namun sekurang-kurangnya dalam konsep ini, ia dapat dipandang mempunyai keistimewaan tersendiri.
3. FILSAFAT EMANASI
Filsafat emanasi atau al-faidh adalah teori pancaran tentang penciptaan alam, yang mana alam ini maujud karena limpahan dari Yang Maha Esa. Sebenarnya teori emanasi ini bukanlah berasal murni dari hasil renungan Ibnu Sina. Tetapi berasal dari Neoplatonisme yang menyatakan hal ini terjadi (wujud alam) padahal pancaran dari Yang Esa. Filsafat emanasi Ibnu Sina tidak jauh berbeda dengan emanasi menurut al-Farabi, bahwa dari Tuhan memancar akal pertama, dan dari akal pertama memancar akal kedua, dan langit pertama; demikian seterusnya, sehingga tercapai akal ke sepuluh dan bumi. Dari akal kesepuluh memancar segala apa yang terdapat di bumi yang berada di bawah bulan. Akal pertama adalah malaikat tertinggi dan akal kesepuluh adalah malaikat Jibril.
4. FILSAFAT JIWA
Ibnu Sina berpendapat bahwa jiwa adalah wujud rohani (imateri) yang berada dalam tubuh. Wujud imateri yang tidak berada dalam atau tidak langsung mengendalikan tubuh disebut akal. Akan tetapi, apabila mengendalikan secara langsung disebut jiwa. Badan bisa berubah-ubah secara fisik, tetapi jiwa ada sebelum badan itu ada dan berubah. tang jiwa terbagi menjadi dua bagian:
Fisika : jiwa tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia.
Metafisika
a. Wujud jiwa (itsbati wujud al-nafsi)
b. Konsep “aku” dan kesatuan fenomena psikologis, didasarkan pada hakikat penciptaan manusia.
c. Dalil kontinuitas
d. Dalil manusia terbang atau manusia melayang
Ringkasan materi ini disalin dari Resume Queenadia https://qnadiasyhrn.blogspot.com/
Comments
Post a Comment