Filsuf Pertama dari Kalangan Islam : Al-Kindi (Pertemuan keempat)

Pertemuan keempat dilaksanakan pada Rabu (28/9) secara daring melalui Google Meet

Kelas diisi dengan  presentasi kelompok 1 yang membahas tokoh filsuf pertama dari kalangan islam yaitu Abu Yusuf Ya'qub bin Ishaq Al-Kindi atau yang biasa dikenal dengan Al Kindi. Setelah itu berlangsung diskusi kelas.

Filsuf Pertama dari Kalangan Islam : Al-Kindi

Abu Yusuf Ya'qub bin Ishaq Al-Kindi (bahasa Arab: بن قوبُعْي َسفُيو أبو ِكِندي ْل ا حاق َسْإ ;ِbahasa Latin: Alkindus. Beliau dilahirkan di Kuffah sekitar tahun 185 Hijriah (801 Masehi) di keluarga kaya yang terhormat, Kakek buyutnya Al Asy’as Ibnu Qais, salah seorang sahabat Nabi gugur sebagai Syuhada di peperangan kaum Muslim dengan Persia di Irak. Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa Yunani. Sehingga ia dipekerjakan oleh khalifah Al Ma'mum di House of Wisdom dan banyak karya-karya para filsuf Yunani diterjemahkannya dalam bahasa Arab; antara lain karya Aristoteles dan Plotinos.

Al-Kindi adalah filsuf pertama dari kalangan Islam sekaligus tokoh penggerak filsafat Arab, hingga sering disebut sebagai Bapak Filsafat Arab. Selain menulis bidang filsafat, Al-Kindi juga ahli dalam bidang metafisika, etika, logika dan psikologi, hingga ilmu pengobatan, farmakologi, matematika, dan astrologi. Ketika masa pemerintahan Khalifah Al-Mutawakil (847-861), karier Al-Kindi mulai menurun. Diduga terdapat dua alasan yang mendasari hal ini. Alasan pertama adalah persaingan di perpustakaan dalam menerjemahkan karya ilmiah. Sedangkan alasan kedua adalah penganiayaan Al-Mutawakil terhadap Muslim yang ortodoks. Menurut ahli sejarah, Al-Kindi meninggal pada 873 di Baghdad, ketika masa pemerintahan Al Mu'tamid.

Sebagai penerjemah terkemuka tentunya ia kerap kali mendapat penghargaan, bahkan ia mendapatpenghargaan dari Kalifah AlMa’mun kerana terkenal akan cintanya pada filsafat dan sains. Menurut informasi Al-Ma’mun berani membayar siapapun yang mempu menerjemahkan buku ke dalam Bahasa Arab seberat buku yang diterjemahkan tersebut.

Tulisannya cukup banyak dalam berbagai disiplin Ilmu Pengetahuan bahkan dikatakan mencapai 270 risalah, namun sangat disayangkan kebanyakan karyanya telah sulit ditemukan karena banyak karyanya yang telah hilang sebagai akibat dari ekspansi bangsa Mongol. Risalah tersebut oleh Ibnu Nadim maupun Qifthi dikelompokkan ke dalam 17 kelompok

    Beberapa karya tulis Al Kindi:

  • Kitab Risalah Fi Shifatil Istharlab Bil Handasah
  • Kitab Mahiyatul Falak
  • Kitab Tanaha Jarmul "Alam
  • Kitab Ilmu Ar-Ra'di wa al-Barqi wa ats-Tsalji wa ash-Shawa'iq wa al-Mathar, kitab yang menafsiri fenomena alam.
  • Kitab Fi al-Ajraam al-Ghaishah
  • Kitab Fi al-Bashariyyat Risalah Fi Zarqati as-Sama
Filsafat ketuhanan menurut Al Kindi, memiliki hakikat dalam artian an-niyah maupun ma'hiyyah. Tuhan bukanlah benda dan tidak termasuk benda yang ada di alam. Tuhan adalah pencipta dan bukan penggerak pertama. Alam bukan kekal di zaman lampau, tetapi mempunyai permulaan. 

Al-Kindi memberikan argumen mengenai bukti adanya Allah, antara lain:

1. Baharunya alam

Al-Kindi mengemukakan secara filosofis bahwa itu tidak mungkin karena alam ini mempunyai permulaan waktu dan setiap yang mempunyai permulaan akan berkesudahan. ini berarti bahwa alam semesta baharu dan diciptakan dari tiada oleh yang menciptakannya, yakni Allah.

2. Keanekaragaman dalam wujud

Menurut Al-Kindi, terjadinya keanekaragaman dan keseragaman ini bukan secara kebetulan, tetapi ada yang menyebabkan atau yang merancangnya. hal ini dikarenakan bukti adanya Allah Swt.

3. Kerapian alam

Al-Kindi menegaskan bahwa alam empiris ini tidak mungkin teratur dan terkendali begitu saja tanpa ada yang mengatur dan mengendalikannya. pengatur dan pengendaliannya tentu berada diluar alam dan tidak sama dengan alam. Zat itu tidak terlihat, tetapi dapat diketahui dengan melihat tanda-tanda atau fenomena yang terdapat di alam ini. zat itulah yang disebut dengan Allah Swt. 

Al-Kindi berpendapat mengenai alam, menurutnya benda di alam dapat dikatakan wujud yang actual apabila terhimpun 4 ‘illar, yaitu Al-Unsharuyyar (Materi benda), al-Shariyyat (Bentuk benda), al Fa’ilat (Pembuat benda), dan at-Tamamiyat (Manfaat benda), pembahasan yang terakhir adalah filsafat jiwa, menurut al-kindi jiwa bisa menentang keinginan hawa nafsu. Di dalam jiwa manusia terdapat 3 daya, yakni daya bernafsu, daya marah dan daya pikir.

Comments

Popular posts from this blog

Al-Farabi : Guru Kedua (Pertemuan kelima)

IBNU MISKAWAIH : Filsuf PNS (Pertemuan Kedelapan)

Abu Bakar Ar-Razi : Galennya Arab