Kelompok Rahasia Ikhwan Al-Shafa (Pertemuan Kesembilan)
Pertemuan kesembilan dilaksanakan pada Rabu (2/11) secara daring melalui WhatsApp grup dan Google Meet kelas A & B.
Kelas dimulai dengan presentasi kelompok 6 (Intan, Rafly, Rina, Ridho) yang membicarakan kelompok rahasia Ikhwan Al-Shafa, yang muncul di zaman carut-marut kekhalifahan Abasiyah.
IKHWAN AL-SHAFA
Ikhwan Al-Shafa yang memiliki arti “Persaudaraan yang suci dan bersih” adalah suatu organisasi dari sekelompok pemikir yang mempunyai wawasan liberal dan mengembangkan sains serta filsafat dengan tujuan yang semata-mata tidak hanya untuk kepentingan sains itu sendiri, melainkan juga untuk memenuhi harapan-harapan lainnya, juga mempersatukan berbagai kalangan dalam sebuah wadah yang selalu siap memperjuangkan aspirasi mereka.
Kelompok ini juga menamai dirinya dengan sebutan Khulan Al-Wafa, Ahl al-Adl, dan Abna’ al Hamdi, atau juga Auliya’ allah karena terdetensi politis, dan juga baru terungkap setelah kekuasaan dinasti Buwaihi di baghdag pada tahun 983M. Pergerakannya bersifat laten (tersembunyi atau terpendam), karena dipengaruhi oleh paham taqiyah dan basis kegiatan mereka verada di tengah masyarakat yang mayoritas Sunni. namun ada juga yang berpendapat bahwa organisasi ini rahasia karena mereka mendukung faham Mu’tazilah yang telah dihapuskan oleh khalifah Abbasiyah sebagai madzhab negara.
Sesuai dengan arti namanya, Ikhwan Al-Shafa mengajarkan tentang dasar-dasar agama islam yang didasarkan pada persaudaraan islamiyah, yaitu sikap yang memandang sikap seorang muslim tidak akan sempurna kecuali jika ia mencintai saudaranya seperti ia mencintai diri sendiri. Kesetiakawanan mereka murni serta saling menasehati satu sama lainnya dalam menuju ridha Allah. Selain itu, lahirnya organisasi ini karena keprihatinan mereka terhadap ajaran islam pada masa itu yang sudah tercemar oleh ajaran dari luar Islam, kemudian ingin membangkitkannya kembali rasa cinta ilmu pengetahuan di kalangan umat muslim.
4 Tingkatan Ikhwan Al-Shafa:
Al-Ikhwan al-Abrar al-Ruhama, yakni tingkatan yang berusia 15-30 tahun yang memiliki jiwa yang suci dan pikiran yang kuat. Mereka berstatus murid, dituntut tunduk dan patuh secara sempurna kepada guru.
Al-Ikhwan al-Akhyar, yakni tingkatan yang berada dikisaran usia 30-40 tahun (tingkat guru-guru). Pada tingkatan ini mereka sudah mampu memelihara persaudaraan, pemurah, kasih sayang, dan siap berkorban demi persaudaraan.
Al-Ikhwan al-Fudhala’ al-Kiram, yakni tingkatan yang berusia 40-50 tahun. Dalam kedudukan kenegaraan, mereka setara dengan sultan dan hakim. Mereka sudah mengetahui aturan ketuhanan sebagai tingkatan para nabi.
Al-Kamal, yakni tingkatan yang berusia 50 tahun ke atas. Mereka disebut dengan tingkatan al-Muqarrabin min Allah, karena mereka sudah mampu memahami hakikat sesuatu sehingga mereka sudah berada di atas alam realitas, syari’at dan wahyu sebagaimana Malaikat al-Muqarrabun.
Bergerak dalam bidang filsafat, bagi Ikhwan Al-Shafa filsafat ilmu yang bertingkat-tingkat. Menurut mereka aktivitas filsafat merupakan upaya menyerupai tuhan, karena tuhan tidaklah mengatakan, kecuali yang benar dan tidak melakukan kecuali kebaikan. Tingkatan filsafat tersebut terbagi menjadi 3 tingkatan, yaitu:
1. Taraf permulaan, yaitu taraf mencintai pengetahuan.
2. Taraf pertengahan, yaitu mengetahui level hakikat manusia dari segala aspek.
3. Taraf terakhir, yaitu melakukan sesuatu yang sesuai dengan pengetahuan seperti berbicara dan beramal.
Mengenai lapangan filsafat, maka dikatakannya ada empat yaitu matematika, logika, fisika, dan ilmu ketuhanan. Dalam ilmu ketuhanan mempunyai bagian-bagian, yaitu:
1. Mengetahui Tuhan.
2. Ilmu kerohanian, yaitu malaikat-malaikat Tuhan.
3. Ilmu kejiwaan, yaitu mengetahui roh-roh dan jiwa-jiwa yang ada pada benda-benda langit dan benda-benda alam.
4. Ilmu politik yang mencakup politik kenabian, politik pemerintahan, politik umum (politik kekotaan), politik khusus (politik rumah tangga), politik pribadi (akhlak).
5. Ilmu keakhiratan, yaitu mengetahui hakikat kehidupan di hari kemudian.
Filsafat Ikhwan Al-Shafa:
Filsafat Jiwa
Menurut mereka, penciptaan alam oleh tuhan menggunakan cara emanasi, yaitu Tuhan memancarkan akal universal ke jiwa universal. Jiwa universal itu memancarkan materi pertama, yaitu bentuk dan jiwa, dan dari materi pertama juga muncul tabiat-tabiat yang menyatu dengan jiwa. Lalu jiwa universal dengan bantuan akal universal menggerakkan materi pertama sehingga mengambil bentuk yang memiliki dimensi panjang, lebar, dan tinggi. Setelah itu terwujudlah tubuh yang mutlak yang kemudian tersusunlah alam falak, langit, dan 4 unsur lainnya (tanah, air, udara, api).
Filsafat Angka
Secara khusus mereka mengkhususkan angka empat, dimana mereka menaruh perhatian kepada misalnya: empat musim, empat angin, empat arah mata angin, dan empat unsur empodoclean.
Filsafat Agama
Menurut mereka, menganut agama yang tidak sempurna lebih baik daripada menjadi kafir. Ikhwan Al-Shafa memandang Islam sebagai agama terbaik, agama yang paling baik dan sempurna dari segala agama.
Kemudian dari hasil pembahasannya, Ikhwan Al-Shafa menyusun sebuah buku yang terdiri dari sebuah risalah yang berjudul “Raisail Ikhwan Al-Shafa wa Al-Kullah al-Wafa” yang berjumlah 52 risalah didalamnya. Yaitu 14 Risalah tentang matematika, 17 risalah tentang fisika dan ilmu alam, 10 risalah tentang ilmu jiwa, dan 11 risalah tentang ilmu-ilmu ketuhanan.
Kemudian sistem dan teori-teori Ikhwan Al-Shafa terbagi menjadi beberapa klasifikasi ilmu, yakni:
1. Pengetahuan Matematika, bagi mereka angka-angka itu mempunyai arti spekulatif yang dapat dijadikan dalil wujud sesuatu, oleh sebab itu ilmu hitung merupakan ilmu yang paling mulia dibandingkan ilmu empirik karena tergolong ilmu ketuhanan.
2. Pengetahuan logika, terdiri dari 12 naskah yang meliputi fisika, menarologi botani, alam kehidupan, alam kematian, dan batas-batas kemampuan pemahaman manusia.
3. Pengetahuan metafisika, dalam teori ini mereka melandasi pemikirannya pada angka-angka atau bilangan. Menurut mereka, pengetahuan tentang angka membawa pada pengakuan tentang keesaan Allah karena apabila angka satu rusak, maka rusaklah semua angka.
4. Pengetahuan syariat atau hukum, mereka meyakini bahwa hukum-hukum agama berbeda satu sama lain, sesuai dengan kebutuhan dan watak bangsa-bangsa yang bersangkutan. Mereka juga beranggapan bahwa dalam agama tidak boleh ada paksaan, oleh karena agama adalah soal hati dan bertumpu pada keyakinan.
Pada kesimpulannya Ikhwan Al-Shafa berusaha memadukan antara filsafat dengan ajaran agama. Namun, mereka lebih menempatkan filsafat diatas agama dan mereka mengharuskan membuat filsafat menjadi landasan agama yang dipadukan dengan ilmu. Dan mereka juga memadukan agama dengan agama lainnya.
Ringkasan materi ini disalin dari catatan Nabila https://nabilazuru.wordpress.com/ dengan melakukan skiming dan perbaikan pada beberapa ketikan.
Comments
Post a Comment